Rabu, 28 September 2016

3 Foto Yang Menandakan Anies Baswedan Bakal Jadi Gubernur DKI Jakarta 2017


1. ANIES BASWEDAN MENERIMA TONGKAT KYAI COKRO PANGERAN DIPONEGORO


Tongkat Pusaka Kanjeng Kiai Tjokro milik Pangeran Diponegoro (1785-1885), yang hilang sewaktu masa peperangan pada abad ke-19, kini dikembalikan ke Indonesia. Tongkat, yang disimpan keluarga Baud di Belanda sejak 1834, itu diserahkan pada pembukaan pameran seni rupa ”Aku Diponegoro” di Galeri Nasional Indonesia di Jakarta, Kamis 5 Februari 2015.

Tongkat pusaka sepanjang 153 sentimeter dari kayu mahoni tersebut diberikan kakak beradik Michiel dan Erica Lucia Baud kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Pengembalian tongkat ini mengejutkan karena keluarga Baud sebelumnya meminta agar acara ini dirahasiakan hingga pembukaan pameran Kamis malam lalu. Michiel Baud mengatakan, keluarganya menerima tongkat itu pada tahun 1834 dari Adipati Notoprojo, cucu Nyi Ageng Serang, keluarga keturunan Sunan Kalijaga, Walisongo.

Sementara sejarawan Inggris yang telah 40 tahun meneliti Diponegoro, Peter Carey menyatakan tongkat tersebut dibuat sekitar abad 16 untuk Sultan Demak, bukan dibuat untuk khusus untuk Pangeran Diponegoro. Dalam tongkat itu, menurut terselip kertas yang keterangannya ditulis JC Baud sendiri, bunyinya demikian:

Deze staf, tjokro genaamd, heeft toebehoord aan Prins Diepo Negoro en is in juli 1834 door Pangrerang Noto Prodjo aan J.C Baud, Gouverneeur General van Ned.

De staf is afkomstig van de Sultans van Demak en werd door Diepo Negoro gedragen telk ens wanneer hij als pelgrim naar heilige plaatsen ging om zegen af te bidden op zijne indernemingen.

Tulisan itu kurang lebih menceritakan asal usul tongkat Kyai Cokro itu yang aslinya dimiliki Sultan Demak, kemudian ke tangan Diponegoro, ke Notoprojo hingga ke JC Baud, seperti yamg telah diceritakan di atas.


Dan atas kehendak Yang Maha Kuasa, tongkat pusaka yang menandakan kepemimpinan dan perjuangan bangsa Indonesia itu diterima kembali oleh bangsa Indonesia melalui tangan Anies Baswedan, cucu Pejuang Kemerdekaan, AR Baswedan, yang dari kecil hingga remajanya hidup di tanah kelahiran Pangeran Diponegoro, tanah Yogyakarta. Tongkat ini erat kaitanya dengan pemimpin masa depan yang bernama Sultan Herucokro. Dan Anies Baswedan sendiri adalah pengagum dari Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro. Di rumah kediaman beliau terpajang dengan gagah lukisan Pangeran Diponegoro.



2. "RAMALAN" DARI JOGOKARIYAN, ANIES BASWEDAN JADI GUBERNUR DKI


Foto diatas adalah saat Menteri Anies Baswedan membuka Konggres Guru Al Qur'an di Masjid Jogokariyan Yogyakarta tanggal 30 April 2016. Di upload oleh ustadz Salim A Fillah di akun Instagram @salimafillah disertai sebuah "ramalan" bahwa Anies Baswedan akan jadi Gubernur DKI Jakarta 2017.

Ustadz Salim A Fillah berkata:
 ***
Kini, setelah purna dari beban tanggungjawabnya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, kita tetap menanti kiprah beliau sebagaimana sering disampaikannya, "Pemimpin itu Pemimpi dengan N. N-nya adalah Nyali." Selamat berjuang terus Pak Anies. Kami di Yogyakarta barangkali akan bangga jika Anda berkiprah sebagai Gubernur misalnya. Tapi kami rakyat istimewa sudah punya, yang kami qana'ah dan ridha padanya. Nah, bagaimana kalau DKI Jakarta?

Ah, mungkin saya hanya bercanda.😄
***
Dan perkataan ulama itu dengan ilmu, bahkan bercandanya pun dengan ilmu.
 
3. ANIES BASWEDAN, LEADER WITH THE FOLLOWERS



Diatas adalah foto selfie yang diunggah oleh akun @aniesbaswedan . Sudah nampak siapa yang Leader dan siapa yang Followers.



continue reading

Jumat, 03 Januari 2014

Misteri Bendera PKS

4. Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat

tamu, seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana.

5. Lengkapnya bernama Ngali Samsujen. Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu

tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati.

6. Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya

memberi petuah padamu mengenai Kitab Musarar.

7. Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”.

Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak

Dewata.

8. Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui

semua. Beliaupun ingat tinggal menitis 3 kali.

9. Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam

Supingi untuk menaikkan kutbah,

10. Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.

(Kitab Musarar Jayabaya: Asmarandana)

Siapakah Raja Pandita dari Negeri Rum yang bernama Maulana Samsujen itu?
Prabu Jayabaya memerintah pada sekitar tahun 1135-1157 M di Kediri. Pada masa yang sama, yang menjadi negara super power dunia adalah Kesultanan Saljuk Raya, yang salah satu kesultananya yang menguasai daerah Asia Minor (Turki bagian timur sekarang ini) adalah Kesultanan Rum (Sultanate of Rome) (Sumber: Wikipedia). Dan pada masa tahun yang sama, yang menjadi Sultan Rum adalah Rukn ad-Din Mesud I .

Kenapa bernama Rum? Karena daerah Asia Minor dahulunya adalah dibawah kekuasaan Kerajaan Romawi Timur (Byzantium) yang berpusat di Konstantinopel (Istambul sekarang). Asia Minor berhasil dikuasai oleh pasukan Muslim Turki Saljuk dan didirikankanlah Kesultanan Rum disana. Pada masa itu kekhalifahan masih dipegang oleh Khalifah Abbasiyah yang berpusat di baghdad, tapi sudah mulai adanya penurunan, dan mulai kuatnya Turki Saljuk sehingga sampai puncaknya pada Tahun 1453 berhasil menaklukan Konstantinopel yang sudah dikabarkan oleh hadits Nabi penaklukanya.

Raja-raja di Sumatera dan Jawa segan terhadap kekuasaan Kesultanan Saljuk Raya yang besar dan kuat. Maka tak heran Prabu Jayabaya sangat gembira ketika ada seorang Pandita (ulama) dari negeri Rum akan hadir ke Kediri. Dan pada masa itu, nama dengan akhiran "din" adalah nama yang populer di emperium Islam di timur tengah. Sebut saja Sultan Jalaludin, Sultan Saifudin Al Qutuz, Imadudin dan Nuruddin Zanki, Sholahuddin Al Ayyubi, dll. Maka kemungkinan besar nama Ngali Samsujen tersebut adalah penyebutan lidah jawa untuk nama Ali Syamsudin.

Besar kemungkinan bahwa Maulana Ali Syamsudin adalah seorang Ulama yang berdakwah ke Jawa. Dengan keyakinan penuh, Ulama tadi yakin bahwa suatu saat negeri ini, tempat beliau menyemai dakwah islam, akan tumbuh dan suatu saat menjadi kuat dan suatu saat akan dipimpin oleh orang yang bertauhid. Oleh beliau itu diperlambangkan dengan akan datangya seorang maulana masih cucu Rasul yang akan membawa ecis udharati dan menjadi punden (pemimpin) tanah jawa (Indonesia).

Sekarang pertanyaanya, apakah ecis udharati itu? apakah itu suatu benda pusaka ataukah hanya suatu perlambang?

9. Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah,

10. Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.

Ecis adalah sebuah senjata dari besi dan udharati ada yang mengartikan budi pekerti/akhlak yang baik (lurus). Ecis itu diletakan dalam kakbah dan suatu saat akan dibawa oleh seorang Maulana yang masih Cucu Rasul ke Jawa.

Di lain cerita kita ketahui bahwa dari beberapa Walisongo adalah masih keturunan Rasulullah SAW, dan mereka datang ke Jawa untuk mendakwahkan Islam yang salah satunya melalui strategi politik dengan mendirikan Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa dengan Raden Patah yang masih keturunan Majapahit sebagai rajanya. Sebuah strategi politik yang luar biasa jenius, sehingga Islam menjadi agama kerajaan (negara) sehingga akhirnya tanah jawa seluruhnya kemudian menjadi Islam.

Kembali ke Ecis tadi, jadi cucu Rasul datang ke Indonesia untuk mendakwahkan Islam. Perlambang ecis yang diletakan dalam kakbah kalau kita urai sebagai berikut:

ecis: senjata besi
udharati: akhlak mulia/lurus
dalam kakbah: dalam Islam

Dan kita ketahui dalam hadits bahwa tugas Rasulullah diutus ke dunia ini adalah untuk menyempurnakan meluruskan akhlak manusia yang jahiliyah.

Jadi arti perlambang diatas adalah ada seorang Muslim yang akan membawa panji islam (ecis-senjata besi yang lurus dalam kakbah) yang digunakan untuk berkhutbah (berdakwah) dan akhirnya memimpin tanah jawa (Indonesia).

Indonesia menganut sistem Demokrasi yang kemudian Partai Politik menjadi instrumen vital guna menelurkan seorang pemimpin pada khususnya dan membawa kemajuan/kemunduran negara pada umumnya. Umat Islam adalah umat terpilih, umat terbaik, maka ketika kita diajak beradu kekuatan oleh para pengusung kemunkaran di medan laga yang bernama demokrasi, maka umat Islam tak kenal takut apalagi surut menghadapi tantangan ini. Islam bisa dan mampu memenangkanya InsyaAllah. Maka tumbuhlah Parpol Islam di Indonesia, dan salah satunya adalah PKS yang dikenal sebagai Partai Dakwah karena memang mereka berdakwah dalam semua lini di sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia melalui Parpol.

Coba kita tengok Bendera/Lambang Partai Dakwah ini:
Lambang Partai Keadilan (1999)

Lambang PKS (2004)

Lihatlah lambang Partai Keadilan (1999), sebuah senjata besi lurus ditaruh dalam kakbah !!!

Silahkan baca filosofi bendera PKS di AD ART PKS:




continue reading

Satu Fakta Lagi, LHI=Putra Batara Indra dari Malang

bergelar pangeran perang

kelihatan berpakaian kurang pantas

namun dapat mengatasi keruwetan orang banyak

yang menyembah arca terlentang

cina ingat suhu-suhunya dan memperoleh perintah, lalu melompat ketakutan

(Bait Jayabaya nomor: 163)

Sebelumnya silahkan baca kembali bahwa Putra Batara Indra adalah LHI di http://pksratuadil.blogspot.com/2014/01/ratu-adil-itu-sekarang-berada-di-tengah.html.Satu fakta ini akan menambah keyakinan anda bahwa LHI lah Putra Batara Indra. Putra Batara Indra dapat mengatasi keruwetan banyak orang, dan itu terbukti dari sebuah puisi karya anaknya ketika LHI sedang ditahan didzalimi oleh penguasa.

Berikut ini puisinya:

Sang Penyemangat Jihad

masih teringat jelas
berat suara nafasmu
perlahan…
tertahan..
beradu dengan langkah sayupmu
kala kau pulang pukul 03.47
kemudian disusul dengan suara asing dari channel TV kesukaanmu
atau suara bisikan bibirmu mengucap, kala kau membaca buku…
atau tawa lepasmu yang menyusul tepat beberapa menit setelah suara telfonmu mendayu..
masih teringat jelas, ayah…
kelembutan sekaligus lelah yang tertahan dan terpaksa terpancar disorot matamu
kala pagi kami hendak berangkat sekolah
pelukan hangatmu yang seolah tidak risih akan gerak-gerik kami yang membangunkanmu dari lelapmu yang baru..
serta kecupan manismu di kening kami yang seolah membayar segala rindu yang memang telah tertahan sejak kemarin-kemarin..
segalanya, masih teringat jelas ayah..
jelas betul dalam ingatan kami..
takpeduli, bahwa segalanya kini diperantarai oleh selembar dua lembar kertas surat..
dan terkadang, tanpa tersentuh indra kehangatanmu sama sekali..
segalanya, masih teringat jelas.
kemudian malam itu
ketika tangan-tangan asing wartawan
menarik
mendorong
memperlakukanmu seolah akan melumat habis dirimu
panas hati kami,
panas jiwa-jiwa kami, ayah..
nafas kami tercekat seakan terhenti sejenak
mata kami terbelalak, namun tetap airmata kami tahan
sengaja tak kami biarkan ia jatuh..
tubuh kami terkaku namun tetap memaksa telinga kami mendengar jernih apa yang mereka tuduhkan kepadamu
kasus suap??
itukah yang merekah tuduhkan?
habiskah akal mereka menuduhkan itu padamu?
tidakkah mereka tau?
detik ketika mereka tidur terlelap menikmati waktu istirahatnya
kau justru baru memulai rapat kesekianmu untuk membersihkan
korupsi, kolusi, nepotisme
yang mereka bilang mereka benci?
tidakkah mereka tau
ketika mereka asik bermimpi,
terlelap dalam mimpi indahnya
mimpi tentang Negara Republik Indonesia
yang bersih
jauuuuh dari kenistaan dan kemarukan petinggi-petingginya
kala itu kau bekerja keras untuk membuat itu terjadi?
menjadikan itu tidak hanya sebatas mimpi
menjadikan mimpi mereka menjadi realiti,
kenyataan
tidakkah mereka tau
ketika kata jihad masih sebuah teori bagi mereka
hanya sebatas angan semata,
kau sudah jauh habiskan waktumu,
jiwamu,
fikiranmu,
hartamu untuk itu..
ketika jihad masih menjadi cita-cita bagi kami
kau seakan jauh
jauuuuuuh telah meninggalkan kami…
tidakkah mereka tahu
ketika mereka menggerutu atas kelelahan mereka
mengeluh atas kesibukan dunia mereka
engkau, ayah
ayah kami ini
dengan senyuman hangat dan setengah mata menahan lelahnya
membukakan pintu rumahnya
menerima setiap gerutu tamunya
kekhawatiran tamunya
keluh kesahnya..
kebutuhannya..
kemudian memberinya solusi
tanpa sedetikpun
tanpa sejenak saja ia menoleh kepada istirahatnya
Kepada hak tubuhnya..
sekarang mereka tuduhkan itu kepadamu ayah?
telingakukah yang salah?
Jangan.. Ayah..
jangan ragu untuk memanggil kami ayah..
bawa jiwa-raga kami bersaksi atas jihadmu yang nyata
karna tak secuilpuun hati kami percaya apa kata mereka
apa tuduhan mereka
apa fitnah mereka ayah..
takkan pernah kami percaya
takkan pernah..
kami tidakkan diam menangisimu ayah
kami akan tetap melangkah
melanjutkan langkah jihadmu
tak peduli sekerdil apapun kami
kami tidak akan malu dan menundukkan kepala kami ayah..
kami akan buktikan bahwa semangat kami takkan kalah dari semangatmu
akan kami tunjukkan
akan kami renggut kembali engkau kembali ke langkah jihadmu, ayah..
jangan engkau khawatirkan kami, ayah..
karna sebagaimana Allah SWT bersamamu
Ia juga bersama langkah-langkah kami..
Doa kami selalu untukmu ayah..
tetaplah tenang dan tersenyum di sana
tetaplah pancarkan tatapan penuh semangatmu..
penghidup semangat tinggi kami,
tetaplah tersenyum Ayah
hingga kau kembali ke dekapan kami…

karya: anak LHI.

sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/04/22/31868/puisi-anak-anak-presiden-pks-untuk-sang-penyemangat-jihad/#axzz2pIPcFt14



continue reading