Jumat, 03 Mei 2013

DEKAT GUNUNG PERAHU SEBELAH BARAT TEMPURAN

“Tidak berkesempatan menghias diri, sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.”
“Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.”
“Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.”
(Kitab Musarar Jayabaya, Sinom: Bait 22, 27 dan 28)

Jadi, Prabu Jayabaya menyebutkan 2 tempat yang berbeda dan 2 nama yang berbeda; yang pertama adalah Putra Batara Indra di Timur Gunung Lawu (akhirnya kita temukan bahwa itu Malang) dan yang kedua adalah Ratu Amisan yang rumahnya “letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran”. Dimanakah itu? Mari kita berpetualang mencarinya.

Pertama kita pecahkan dulu teka-teki “Semarang Tembayat”.

Sunan Bayat (nama lain: Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Tembayat, Sunan Pandanaran (II), atau Wahyu Widayat) adalah tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang disebut-sebut dalam sejumlah babad serta cerita-cerita lisan. Ia terkait dengan sejarah Kota Semarang dan penyebaran awal agama Islam di Jawa, meskipun secara tradisional tidak termasuk sebagai Wali Sanga. Makamnya terletak di perbukitan ("Gunung Jabalkat") di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang. Dari sana pula konon ia menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat wilayah Mataram. Tokoh ini dianggap hidup pada masa Kesultanan Demak (abad ke-16).

Terdapat paling tidak empat versi mengenai asal-usulnya, namun semua sepakat bahwa ia adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang. Sepeninggal Ki Ageng Pandan Arang, putranya, Pangeran Mangkubumi, menggantikannya sebagai bupati Semarang kedua. Alkisah, ia menjalankan pemerintahan dengan baik dan selalu patuh dengan ajaran – ajaran Islam seperti halnya mendiang ayahnya. Namun lama-kelamaan terjadilah perubahan. Ia yang dulunya sangat baik itu menjadi semakin pudar. Tugas-tugas pemerintahan sering pula dilalaikan, begitu pula mengenai perawatan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.

Sultan Demak Bintara, yang mengetahui hal ini, lalu mengutus Sunan Kalijaga dari Kadilangu, Demak, untuk menyadarkannya. Terdapat variasi cerita menurut beberapa babad tentang bagaimana Sunan Kalijaga menyadarkan sang bupati. Namun, pada akhirnya, sang bupati menyadari kelalaiannya, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan duniawi dan menyerahkan kekuasaan Semarang kepada adiknya.
Pangeran Mangkubumi kemudian berpindah ke selatan (entah karena diperintah sultan Demak Bintara ataupun atas kemauan sendiri, sumber-sumber saling berbeda versi), didampingi isterinya, melalui daerah yang sekarang dinamakan Salatiga, Boyolali, Mojosongo, Sela Gringging dan Wedi, menurut suatu babad. Konon sang pangeran inilah yang memberi nama tempat-tempat itu). Ia lalu menetap di Tembayat, yang sekarang bernama Bayat, Klaten, dan menyiarkan Islam dari sana kepada para pertapa dan pendeta di sekitarnya. Karena kesaktiannya ia mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itu ia disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat.

Begitulah kisahnya. Disebutkan bahwa lokasi Ratu Amisan tadi di dekat Gunung Perahu, ada yang mengartikan gunung perahu itu adalah Tangkuban Perahu di Jawa Barat ada juga yang mengartikan Gunung Perahu di Dieng. Kemudian banyak dari para pencari Ratu Adil/Ratu Amisan, mengatakan bahwa “Semarang Tembayat” adalah di Semarang Bagian Barat Daya. Ada yang mengartikan itu adalah daerah di dekat Gunung Perahu di Pegunungan Dieng. Ada yang mencoba mengartikan tempat yang dimaksut adalah di Jabalkat, Bayat, Klaten tempat kuburan dari Sunan Bayat tapi kemudian menganulirnya karena menganggap Klaten sangat jauh dari Gunung Perahu.
   

(Gambar: Buku Ratu Adil Telah Muncul Dari Jabalkat dan Komplek Pemakaman Sunan Bayat/Pandanaran di Gunung Jabalkat, Bayat, Klaten)

“Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.” Begitulah Prabu Joyoboyo tuliskan, artinya kita harus pecahkan dulu teka-teki “Semarang Tembayat” ini. Dalam cerita Sunan Bayat tadi disebutkan bahwa beliau berjalan/pindah dari Semarang ke Bayat memenuhi perintah Sunan Kalijaga. Kemudian beliau meninggal dan dikuburkan di Bukit Jabalkat, Bayat, Klaten. Tapi di Klaten tidak kita temui Gunung Perahu, yang kita temui Cuma bukit-bukit saja. Hmmm... coba kita cari lebih giat lagi. Coba kita googling “Bayat Klaten Perahu”, maka kita akan terkejut, bahwa di Klaten ada miniatur kembaran Gunung Tangkuban Perahu yang bernama Watu Prau (Batu Perahu).

Watu Prau: Miniatur Gunung Perahu

Watuprau (Batu Perahu) dinamakan seperti ini karena batu tersebut mempunyai bentuk mirip perahu terbalik (mirip Gunung Tangkuban Perahu namun dalam skala lebih kecil). Lokasi Obyek wisata yang mempunyai jarak dari kota Klaten ± 15 km, terletak di Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, obyek ini merupakan potensi spesifik suasana alam pegunungan dan pemandangan alam yang indah dan alami.

Watuprau mempunyai legenda yang mirip dengan cerita Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Konon, pada zaman dahulu Roro Denok hendak dipersunting oleh Joko Tua, namun Rara Denok tidak menginginkan pernikahan itu terjadi, Roro Denok akan menyetujui pinangan tersebut namun dengan syarat Joko Tua harus membuatkan perahu dan mengisinya dengan bermacam-macam perhiasan dan ternak dalam waktu semalam.

Joko tua yang sakti mandraguna tidak menolak persyaratan tersebut, dengan bantuan jin permintaan Roro Denok dapat selesai sesuai kurun waktu yang ditentukan. Namun dengan kecerdikan Roro Denok, syarat itu tidak dapat dipenuhi yang membuat Joko Tua murka. Perahu yang hampir selesai di tendangnya, sehingga menelungkup dan di sertai sumpahnya bahwa keturunan yang berasal dari daerah Roro Denok akan menjadi perawan tua.


  
(Gambar: Watu Prau dan Fosil Kerang Sungai)

Di watuprau ini  terdapat fosil-fosil dan bermacam-macam batuan, diantaranya adalah Fosil Kece (Kerang Sungai), menurut orang sekitar fosil kerang sungai yang mirip uang logam tersebut adalah uang dari Joko Tuo tadi yang membatu bersama perahu yang ditendangnya kemudian terbalik.
Sekarang Watu Prau menjadi milik Fakultas Geologi UGM yang digunakan sebagai sarana penilitian. Diatas Watu Prau telah ada lobang bor guna mengambil sampel isi batuan tadi. Menurut kabar, Watu Prau ini batuan yang usianya sangat tua dan mengandung mineral dan fosil yang menarik untuk diteliti, bahkan dari Luar Negeri pun ikut melakukan penelitian. Tapi belum ada hasil penelitian yang di publish atas Watu Prau ini. Kalau melihat bahwa ada Fosil Kerang Sungai di Watu Prau maka bisa diambil kesimpulan sementara bahwa dulu disitu adalah bekas aliran sungai.

Mencari Tempuran (Pertemuan 2 Sungai)

Coba kita cari pertemuan 2 sungai (tempuran) di Klaten, kita dapatkan pertemuan sungai Bengawan Solo dan Kali Dengkeng, tepatnya di Desa Serenan, Kecamatan Juwiring, Klaten. Kok, agak jauh dari Bayat. Coba kita cari lagi. Sekarang kita coba dengan Wikimapia.org untuk mencari tempuran di Klaten, setelah kita pelototi peta Klaten akhirnya dapat juga “tempuran”. Ada nama Dukuh Tempuran Kulon dan Tempuran Wetan di Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Kab. Gunung Kidul. Dukuh Tempuran terletak di sebelah selatan Bayat, Klaten dan jaraknya cukup dekat. Silahkan lihat di Google Earth.

Tapi cukup bingung juga, di Dusun Tempuran tadi, lewat Google  tidak kita temukan pertemuan 2 sungai (tempuran). Banyak tempat di Jawa yang bernama tempuran, dan diberi nama itu karena lokasinya dekat dengan pertemuan 2 sungai. Tempuran sendiri berarti bertemunya/bertempurnya arus 2 sungai. Maka bisa kita ambil kesimpulan bahwa nama Dusun Tempuran tadi punya sejarah, kemungkinan besar dulu tempat tersebut adalah pertemuan 2 sungai yang sekarang sudah mengering atau tertibun. Ingat Watu Prau yang ada fosil Kerang Sungai tadi? Berarti disitu dulu pernah ada sebuah sungai yang sekarang kering/tertimbun.
Kita lanjutkan petualangan kita dengan wikimapia.org, setelah bayat dan tempuran, coba kita geser ke barat daya sedikit. Disana ada Gunung Api Purba Nglanggeran. Letaknya di Patuk, Gunung Kidul. Gunung ini sudah tidak aktif lagi setelah dulu pernah meletus dahsyat. Menurut penelitian usianya lebih tua dari Merapi, bahkan waktu Gunung Nglanggeran masih aktif, Gunung Merapi belum ada. Dan sudah menjadi pengetahuan kita semua, bahwa Gunung Berapi dibawahnya mengalir sungai-sungai. Seperti Gunung Arjuno yang dibawahnya mengalir sungai arjuno, atau Kaligendol, Kali Code yang mengalir dari Gunung Merapi. Dusun Tempuran tadi berada di timur Gunung Api Purba Nglanggeran, jadi sangatlah mungkin bahwa dulu di Dusun tersebut mengalir sebuah sungai, bahkan 2 buah sungai sehingga terjadi pertemuan 2 sungai di dusun tadi.
Setelah kita dapatkan hasil bahwa yang dimaksud Semarang Tembayat adalah Bayat Klaten dan Gunung Perahu adalah Watu Prau di Bayat Klaten serta Tempuran adalah Dusun Tempuran, Desa Kampung, Kec. Ngawen, Kab. Gunung Kidul, maka menurut tulisan Prabu Jayabaya tadi bahwa lokasi Ratu Amisan berada di Dekat Gunung Perahu sebelah Barat Tempuran, maka coba kita lihat ke barat lokasi tempuran, maka akan kita dapati Jogja. Apakah Ratu Amisan dari Jogja? Tapi Jogja yang mana? Luas sekali Jogja. Di barat Tempuran ada Kec. Gantiwarno, Kec. Prambanan dan Kec. Piyungan. Disana ada 2 Candi; Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko. Lebih ke barat lagi ada Kraton Yogyakarta.



Mungkinkah Ratu Amisan yang bergelar Sultan Erucokro  itu Sultan Yogyakarta? Atau Boediono, wapres dari Sleman? Atau keluarga besar Amin Rais? Atau bahkan Emha Ainun Najib, orang Jawa Timur yang berumah di dekat Kraton Yogyakarta? Atau Anies Baswedan, Cucu AR Baswedan?

2 komentar :

Anonim mengatakan...

..SATRIO PININGIT / JAWATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA..

Satrio Piningit itu antara satu gelaran yg ditujukan kepada jawatan dan kuasa Presiden Republik Indonesia.
Sejarah silam dan politik negara sudah tempuhi zaman pemerintahan 6 Presiden dgn berbagei corak ragam dan rupa.
Kini masa depan rakyat keadilan kekayaan negara terletak pada kepimpinan bakal Calon Presiden Ke7 Indonesia.
Harapan rakyat pada Presiden Ke7 nanti yg bisa membawa perubahan zaman keemasan bagi seluruh rakyat warganya.
Jawatan Satrio Piningit ato Presiden terbuka luas pada setiap warga Indonesia tetapi tetap dgn beberapa syaratnya.
Kepada siapa memiliki kelayakan yg disyaratkan rebutlah peluang utk menjawat Presiden Ke7 Republik Indonesia.
Contohnya AlMarhom Bung Karno dia dari Nasab Ahlulbait "Wali 7" telah menepati syarat2 sebagei Presiden Pertama.
Siapa calon Presiden Ke7 Indonesia walo harapan maseh ada terletak pada pilihan rakyat jelata maseh jadi tandatanya.
Fahamnya Satrio Piningit gelaran bagi kuasa Presiden berbentuk hanya "Bangsa Nusa dan Negara Indonesia" semata.
Sekian lama Satrio Piningit Sejati dinanti2 dgn harapan Presiden Ke7 bisa bawa kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia...


...RATU ADIL / JAWATAN KHALIFAH AKHIR ZAMAN - IMAM MAHDI AS...

Ratu Adil itu sebenernya gelaran khusus bagi jawatan dan kuasa Sang Juru Penyelamat Ummat Islam diAkhir Zaman.
Yg dimaksodkan dialah Imam Mahdi AS pasti Allah bangkitkan kapan sudah bertepatan dgn janji rencana-Nya Tuhan.
Jawatan Ratu Adil ato Imam Mahdi AS bukan dari pilihan rakyat tetapi Allah Yg Maha Merencana telah menobatkan.
Sabda Nabi SAW Imam Mahdi AS dibangkitkan setelah Dunia Islam dipenuhi dgn onak kesesatan kezaliman penindasan.
Tugas2 Imam Mahdi AS berbentuk "Semesta Raya" bawa keadilan susun semula order semesta yg sudah berantakan.
Antara misi2 Imam Mahdi AS bimbing semula Ajaran Islam Sejati yg telah jauh tersesat ditelan Fitnah Akhirul Zaman.
Setelah beliau buktikan Kemahdiannya depan Kaabah diMekah berduyun2 ummat Islam serata dunia datang dibaiahkan.
Asal usul leluhur Imam Mahdi AS dari Ahlulbait warisan "Wali 7" berkisar diGunung Salak namun sejarahnya dilupakan.
Dialah pewaris sah Sang Saka Merah Puteh entah kemana hilang datang semula singkap sejarah Nusantara Alam Kewalian.
Sudah ribuan tahun Dunia Islam menanti Imam Mahdi AS bawa keadilan kemakmuran semesta Timur dan Barat akan disatukan...

Indra Caraka mengatakan...

Kalau kita mau lebih jeli, Bayat ( terutama kelurahan Paseban dan Beluk ) itu dikelilingi oleh bukit2. Sebelah barat Bukit Jabalkat, Utara dan timur bukit kunang, selatan pegunungan kidul. Sehingga bisa dipersepsikan sebagai " daerah Perahu " atau Lebak Cawene menurut Wangsit Uga Siliwangi. Mengenai Tempuran atau Pertemuan 2 sungai, di Bayat ada 2 tempuran. Pertama pertemuan Kali Cangak dan Kali Dengkeng, serta Kali Pasar dan Kali dengkeng. Semuanya berada disebelah timur makam Sn Bayat. Dari hal tersebut, Saya kok malah lebih cenderung mengartikan bahwa Budak angon yg dimaksud adalah Keturunan dari Sunan Bayat. Siapa Tau,.....

Poskan Komentar